<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara Ummat</title>
	<atom:link href="http://mutiara-ummat.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mutiara-ummat.org</link>
	<description>Mencetak Generasi Cerdas Berakhlak</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 May 2012 03:36:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Bahasa Iblis dalam Politik Kaum Liberalis</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/bahasa-iblis-dalam-politik-kaum-liberalis</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/bahasa-iblis-dalam-politik-kaum-liberalis#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 03:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[irshad manji]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=610</guid>
		<description><![CDATA[Irsyad Manji menggunakan bahasa Iblis dalam pendapat-pendapatnya. Beberapa statemennya seperti, "Allah, Liberty and Love menunjukkan kita semua bagaimana mendamaikan iman dan kebebasan dalam dunia yang mendidih dengan dogma represif. Kunci ajaran Manji adalah "Keberanian moral, "kemauan untuk berbicara ketika orang lain ingin membungkam mulutmu. buku ini merupakan panduan utama untuk menjadi warga dunia yang berani."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh: Lathifah Musa</strong><strong> </strong></p>
<p><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2012/05/irshad1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-611" title="irshad1" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2012/05/irshad1.jpg" alt="" width="290" height="174" /></a>Diskusi mingguan Pesantren Media, 6 Mei 2012 cukup menarik. Diawali dari respon keras umat Islam terhadap kedatangan Irsyad manji dengan bukunya yang berjudul &#8220;God, Liberty and Love&#8221;. Bagi mereka yang melakukan pembelaan, tentu tak disebut umat Islam, karena mereka merepresentasikan suara kaum liberalis, lesbianis, pluralis, sekularis, bahkan dajjalis. Istilah dajjalis meminjam penyebutan ustadz Umar terhadap orang-orang yang senang menggunakan simbol-simbol dajjal dan zionisme.</p>
<p>Irsyad manji adalah seorang seorang feminis, penulis Kanada, wartawan dan advokat dari interpretasi &#8220;reformasi dan progresif&#8221; Islam. Ia mendeklarasikan sebagai seorang lesbian. Menghadapi berbagai hujatan mengenai ke-lesbian-nya, ia mengatakan bahwa Islam agamaku, dan menjadi lesbi adalah kebahagiaanku. Bahkan pada suatu wawancara eksklusif di stasiun TV CBC, Irshad mengatakan akan menantang Tuhan beradu argument tentang hakikat keadilan.</p>
<p>Bahasa pernyataan yang sangat kurang ajar ini mengingatkan saya pada bahasa-bahasa yang digunakan Iblis La’natullah alaih, ketika berusaha menggoyahkan Bapak seluruh manusia, Adam alaihis Salam.</p>
<p>Allah berfirman: <em>&#8220;Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka yang selama ini tertutup. Dan setan berkata, ”Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi  malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal dalam surga.”</em> <strong>(TQS Al A’raf [7]: 20)</strong></p>
<p>Iblis membisikkan kepada Adam dan Hawa, tentang maksud Tuhan, mengapa keduanya tidakk diijinkan mendekati pohon terlarang. Iblis berbicara seolah-olah atas nama Tuhan. Iblis berbicara dengan bersumpah palsu.</p>
<p>Bahasa Iblis ini bisa kita kenali dari sifatnya yang seolah-olah mengatasnamakan Tuhan, tetapi pada faktanya bertentangan  dengan syariat Allah SWT.</p>
<p>Bahasa Iblis ini masih berlaku hingga saat ini, bahkan semakin dahsyat. Karena Allah SWT telah menangguhkan adzabNya hingga Hari Kiamat.</p>
<p>Allah SWT menerangkan dalam Al Qur’an, Surat al Israa’: 61-65. Allah SWT berfirman: ”Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ”Sujudlah kamu semua kepada Adam,” lalu mereka sujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) berkata,”Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah? Ia (Iblis) berkata,”Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu  kepadaku sampai Hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” Dia (Allah) berfirman, ”Pergilah, tetapi barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh neraka Jahannamlah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang kamu (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka. ” Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. ” Sesunguhnya terhadap hamba-hambaKu, kamu (Iblis) tidaklah dapat berkuasa terhadap mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.”</p>
<p>Bahasa Iblis bisa memukau manusia. Namun kaum beriman tidak akan terpukau. Bahasa Iblis digunakan oleh kaum liberalis untuk menyesatkan Umat Islam dari ajaran agamanya sendiri. Kita bisa mengenali bahasa-bahasa semacam ini.</p>
<p>Irsyad Manji menggunakan bahasa Iblis dalam pendapat-pendapatnya. Beberapa statemennya seperti, &#8220;<em>Allah, Liberty and Love</em> menunjukkan kita semua bagaimana mendamaikan iman dan kebebasan dalam dunia yang mendidih dengan dogma represif. Kunci ajaran Manji adalah &#8220;Keberanian moral, &#8220;kemauan untuk berbicara ketika orang lain ingin membungkam mulutmu. buku ini merupakan panduan utama untuk menjadi warga dunia yang berani.&#8221;</p>
<p>Ia pun menyatakan dirinya lesbian sekaligus beragama Islam. Ia merencanakan akan mendebat Allah mengenai persoalan ini.</p>
<p>Beberapa pembelaan yang mendukung kalimat-kalimat Manji disampaikan dengan bahasa sejenis. Mereka antara lain, :</p>
<p>(1) Pendiri Komunitas Salihara, Gunawan Mohammad, mengatakan bahwa dia menyesal atas insiden yang terjadi dan terpaksa kuliah umum harus dihentikan.</p>
<p>&#8220;Pembubaran ini adalah pelanggaran HAM untuk berkumpul dan menyatakan pendapat,&#8221; kata Gunawan.</p>
<p>(2) Dalam akun <em>Twitternya @ahmaddhaniprast</em> , Ahmad Dhani mengatakan Indonesia akan malu bahwa dalam sejarah bangsa ini ada kekerasan yang membawa-bawa agama. Mantan suami Maia Estianty tersebut sering membalas mention pengguna Twitter lain yang menanggapi kicauannya. Dalam salah satu balasannya kepada pemilik akun @eddie_bna, Ahmad Dhani mengatakan jika Tuhan membiarkan iblis beraksi, kenapa manusia sok jadi Tuhan yang melarang manusia. Ia juga mengatakan kepada pemilik akun @lulurahman, tidak ada contoh nabi yang turun ke jalan dan membuat kekacauan.</p>
<p>&#8220;@LuluRahman kemaksiatan perlu tindakan tegas&#8230;?apakah ada contoh Nabi yg turun ke jalan obrak abbrik?&#8230;jgn bikin hadist sendiri&#8230;&#8221; terangnya.</p>
<p>(3) Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Endi M Bayuni, yang juga anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menilai, pembubaran diskusi dan bedah buku feminis Muslim asal Kanada, Irshad Manji, yang berjudul &#8220;God, Liberty and Love&#8221; di Komunitas Salihara, Jakarta, Jumat (4/5/2012) adalah promosi buku yang bagus dan gratis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(4) Komunitas Salihara, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI) Jakarta, YLBHI, Elsam, LBH Jakarta, Kontras, dan Jaringan Islam Independen membuat pernyataan pers, bahwa pelarangan terhadap Irshad Manji dinilai mencederai kebebasan berekspresi yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945. &#8220;Cara polisi membubarkan diskusi sangat bermasalah dan cenderung menebar ancaman. Polisi tidak menangkap massa yang masuk dan mencoba mengganggu diskusi, justru tindakan yang diambil polisi adalah mengakomodasi tuntutan massa dan meneruskan aspirasinya untuk membubarkan diskusi,&#8221; demikian isi siaran pers tersebut.</p>
<p>(5) Dari mereka yang sering dikenal sebagai bagian dari komunitas kelompok Islam, ternyata juga terjebak menggunakan bahasa-bahasa ini. Contoh berikut ini adalah pendapat Fahri Hamzah dari PKS, terkait Irshad Manji yang mengadakan diskusi di Indonesia:</p>
<blockquote><p>1.Sorry break isya, kita lanjut soal #Polisi dan #freedomofspeech@IrshadManji di @salihara</p>
<p>2.Setiap komplain kita harusnya ditujukan ke aparat. Dalam hal ini#Polisi sebab itu tugas mereka menjaga wilayah publik.</p>
<p>3.Awalnya, memelihara keamanan diri/masyarakat adalah tugas masing2 makanya setiap orang bawa senjata. #Polisi</p>
<p>4.Ketika konsep negara lahir, senjata2 itu kita serahkan kepada negara dan mereKa menjaga kemanan kita, lahirlah #Polisi, kita gaji.<br />
5.Maka kita andalkan #Polisi yg mengerti bahwa dua kelompok sipil tidak boleh saling sentuh jika ada sengketa. @salihara</p>
<p>6.Jika tetangga saya memelihara anjing yg mengancam keselamatan anak2 saya. Saya akan lapor polisi, bukan meracuni anjing itu smp mati.</p>
<p>7.Kehadiran negara ini juga adalah ciri masyarakat beradab ketika ruang publik diregulasi bersama dan kita tunduk padanya. #Polisi</p>
<p>8.Dalam kaitan itulah juga kasus @salihara dan diskusi@IrshadManji kita simak. Apa masalah sebuah diskusi? #Polisi</p>
<p>9.Secara subtantif UUD45 sudah menjamin kebebasan berpendapat (#freedomofspeech) jadi diskusi apapun bebas. #Polisi</p>
<p>10.Kalau anda tidak setuju dgn satu pendapat buatlah pendapat lain. Lalu bikin diskusi itulah #freedomofspeech #Polisi</p>
<p>11.Jangan kan negara Tuhanpun membela #freedomofspeech . Salah satu tujuan syariat adalah hifdzul al aql (memilihara akal).</p>
<p>12.Kalau Tuhan aja membiarkan setan hidup kok kita menentang#freedomofspeech? Negara harus dilarang membatasi kebebasan berbicara.</p>
<p>13.Negara harus menjamin pergumulan ide bahkan harus mengambil untung dari munculnya ide2 terbaik dari publik.#freedomofspeech</p>
<p>14.Kita mungkin tidak setuju dengan @IrshadManji dalam diskusi@salihara itu tetapi biarkan dia bicara. #freedomofspeech</p>
<p>15.Mari jadikan Indonesia ini taman bunga ide2 segar seperti Bagdad zaman Abbasyiah. Wallahua&#8217;lam. #freedomofspeech</p></blockquote>
<p>Demikianlah, saya hanya ingin mengingatkan bahwa bahasa-bahasa yang memukau, mengatasnamakan Tuhan, dengan istilah-istilah berbahasa yang dikemas semacam HAM, freedomofspeech, liberty dan lain-lain, telah digunakan oleh Iblis dalam memperdaya Nabi Adam as dan istrinya. Inilah bahasa politik Iblis untuk menjerumuskan anak cucu Adam menjadi pengikutnya dan sekutunya di neraka Jahannam.</p>
<p>Allah SWT telah mengingatkan kepada seluruh manusia. Untuk itu janganlah silau dan bangga dengan bahasa-bahasa demokrasi, hak asasi, kesetaraan gender dan sejenisnya. Selama substansinya telah mencederai hukum-hukum Allah SWT, maka jelaslah ini bahasa Iblis![]</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/bahasa-iblis-dalam-politik-kaum-liberalis&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/bahasa-iblis-dalam-politik-kaum-liberalis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anomali Shalat Kita</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/anomali-shalat-kita</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/anomali-shalat-kita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 19:27:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[ruhiyah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[Muslim mana yang tidak mengenal kewajiban shalat lima waktu? Urusan ini adalah ma’lum min ad-din bi adl-dlarurah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Muslim mana yang tidak mengenal kewajiban shalat lima waktu? Urusan ini adalah <em>ma’lum min ad-din bi adl-dlarurah</em>. Perkara yang telah diketahui sedemikian pentingnya. Pelajaran shalat adalah pelajaran pertama bagi setiap muslim di dalam keluarganya. Lalu di majlis-majlis taklim, tak bosan-bosan para mubaligh dan mualim mengajarkan kembali pentingnya dan tatacara pelaksanaan shalat.</p>
<p>Tapi seperti sebuah anomali, shalat yang merupakan hukum Islam yang elementer dan amat penting, juga teramat sering disampaikan dalam forum-forum pengajian, justru menjadi bagian yang kini amat mudah diabaikan. Dengan mudah kita bisa mendapati saudara kita yang meninggalkan shalat. Itu dilakukan dengan alasan yang ringan; khawatir pakaian terkotori najis, tanggung sedang menggarap pekerjaan, sedang di dalam kendaraan, atau yang cukup menggelikan banyak muslimah meninggalkan shalat dengan alasan tak membawa mukena.</p>
<p>Bukan hanya itu, siapa saja yang memahami tatacara shalat pastinya merasa masygul, bersedih jika melihat pelaksanaan shalat umat Islam pada hari ini. Banyak yang malas berjamaah ke mesjid, saat berjamaah pun tidak lagi memperhatikan kesempurnaan shaf, dan ketika mengerjakan tarawih seolah tumaninah pun tidak lagi jadi bagian rukun dari shalat.</p>
<p>Karenanya jauh-jauh hari, Rasulullah saw. telah mengingatkan kita semua. Sabdanya:</p>
<p><strong>?? ????? ??????? ??? ??????? ???? ?????? ????? ????????</strong></p>
<p><em>“Dan berapa banyak orang yang shalat tidak mendapatkan keuntungan apapun di sisi Allah Ta’ala”</em>(HR. Al Hakim)</p>
<p><em>Astaghfirullah al-adzim!</em> Pernahkah kita melakukan introspeksi terhadap ibadah shalat yang kita kerjakan? Ataukah kita sudah menjadi orang yang senantiasa puas dengan ibadah shalat kita selama ini? Jika kita meyakini bahwa shalat adalah tiang agama, dan penyambung hubungan kita dengan Allah, bukankah kita harus berusaha menunaikannya sebaik-baiknya? Ataukah kita sekedar menggugurkan kewajiban belaka? Sungguh Nabi saw. telah meminta umat untuk mewaspadai hal ini. Sabdanya: <em>“Akan datang kepada manusia suatu masa, di dalam masa itu banyak orang yang merasa dirinya shalat, padahal sebenarnya mereka tidak bershalat.” </em><strong>(HR Ahmad)</strong></p>
<p>Dan, sudahkah shalat kita ini mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar? Sudahkah shalat kita ini mendorong kita semakin mencintai syariatNya, dan memacu kita untuk berjuang menegakkan hukum-hukumNya? <em>Allahumma taqabbal minna shalatana!</em> <strong>[januar]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/anomali-shalat-kita&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/anomali-shalat-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Istri Taat Suami</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/menjadi-istri-taat-suami</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/menjadi-istri-taat-suami#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 08:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[taat suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Islam, peran istri sangat penting. Bahkan Islam mengajarkan bahwa  istri taat kepada suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/gina.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-288" title="gina" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/gina-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a> <em>Terkait dengan problem penyakit sosial yang bisa meretakkan keluarga seperti datang ke prostitusi atau perceraian, maka belum lama ini berdiri sebuah organisasi di Malaysia yang namanya </em><em>Klub Istri Taat Suami (Obedient Wives Club/ OWC). Pendirian klub ini juga memicu berdirinya Ikatan Istri Taat Suami di Indonesia. Namun ide ini ternyata memicu kontroversi, khususnya tentangan dari pihak yang merasa terlecehkan dengan klub dan ikatan ini. Bagaimana sebenarnya kontoversi ini dan bagaimana pandangan Islam tentang masalah ini? Kita akan berbincang-bincang tentang MENJADI ISTRI TAAT SUAMI  Bersama Ustzh. Ir Lathifah Musa. Beliau adalah Pemimpin Redaksi Majalah Udara Voice Of Islam.</em></div>
<div>
<p><em><br />
</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ustadzah, belum lama ini ada klub yang namanya Klub Istri Taat Suami. Klub ini kemudian mengundang kontroversi, khususnya di kalangan feminis. Karena semakin membuktikan bentuk pelecehan terhadap perempuan. Bagaimana Ustadzah menanggapi masalah ini? </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di Malaysia telah diluncurkan Klub Istri Taat Suami (Obedient Wives Club/ OWC). OWC Malaysia resmi diluncurkan Sabtu (4/ 6/ 2011). Adapun di Indonesia klub serupa dengan nama Ikatan Istri Taat Suami juga kabarnya menyusul. Klub ini yakin bisa “mengobati” penyakit-penyakit sosial seperti prostitusi dan perceraian dengan cara mengajarkan ketaatan kepada suami dan membuat mereka bahagia di atas ranjang. Salah satu yang didapat anggota klub ini adalah pelajaran seks. Tujuannya untuk membantu para istri bisa “melayani suami-suami mereka lebih dari pekerja seks komersial (PSK) kelas satu,” kata Wakil Presiden OWC Dr. Rohaya Mohammad. Barangkali ini yang kemudian memicu kontroversi. Ketika ada statemen bahwa para istri tidak boleh sekadar terampil memasak dan menjadi ibu yang baik. Istri seharusnya “mematuhi, melayani, dan menyenangkan” suami agar tidak “mengembara” atau nakal. Dengan kata lain,  “istri yang tidak patuh menyebabkan dunia gonjang-ganjing” karena suami tidak bahagia di rumah serta pikiran dan jiwa mereka terganggu. Di Indonesia klub ini kemudian menginspirasi perkumpulan sejenis. Penggagasnya adalah doktor aeronautika (teknologi angkasa luar), Dr. Gina Puspita, PhD., yang menggagas pembentukan Ikatan Istri Taat Suami (IITS) di Indonesia. IITS semata-mata untuk mengajak umat Islam mengamalkan ajaran Islam secara lengkap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana dengan bentuk klub-klub semacam ini apakah boleh? </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya boleh saja, karena kontennya baik. dalam IITS, para Istri ataupun calon istri yang bergabung di IITS akan diberi panduan konseling bagaimana cara membangun sebuah rumah tangga dengan cara Islami. Menurut Gina, penggagas yang di Indonesia, klubnya tidak hanya mengajarkan peran istri yang harus taat kepada suami, melainkan juga sikap dan tanggung jawab suami kepada istri. Dalam Islam, peran istri sangat penting. Bahkan Islam mengajarkan bahwa  istri taat kepada suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Klub ini meyakini rahasia pernikahan bahagia adalah istri menaati suami dan memberi kepuasan seksual kepadanya. Untuk itu memang tujuan pendiriannya baik-baik saja. Sebagaimana kita mendirikan klub-klub lain yang baik-baik. Hanya memang dalam statemen-statemennya masih kurang tepat. Seperti klub yang di Malaysia menekankan kepada anggotanya untuk taat kepada suami dengan bersikap bagaikan pelacur di ranjang. Jadi suami terasa betah dirumah dengan kreativitas yang dilakukan istri untuk suaminya<strong>. </strong>Statemen ini jelas salah. Karena sangat jauh berbeda wanita sholihah dengan pelacur. Pelacur melayani apa saja tanpa batasan syariat, bisa jadi mereka melakukan oral seks atau anal seks sesuai keinginan pelanggan. Sementara istri sholihah tidak demikian. Untuk itu memang istilah ini harus dijauhkan. Lebih baik menggunakan kata melayani suami bagai bidadari. Karena dalam hal ini, bidadari memang diciptakan untuk menyenangkan laki-laki yang shalih yang masuk surga, dan khusus dalam soal seksualitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana sebenarnya hukum ketaatan Istri kepada suami? </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hukum taat kepada suami wajib, dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT bisa dilihat di al-Qur`an Surat An-Nisaa: 34.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenapa ya, ketika ada klub-klub seperti PSSI (Persatuan Suami Sayang Istri) tidak terlalu diributkan dibandingkan dengan Klub Istri Taat Suami? </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya sejak lama telah ada klub-klub sejenis yang didirikan oleh kaum laki-laki. Seperti PSSI: Persatuan suami sayang istri; ISSI: Ikatan suami sayang istri; GAS: Gerakan anti selingkuh; ISTI: Ikatan suami takut istri. Tetapi karena Klub Istri taat suami telah mengusik kepentingan kaum feminis, maka kemudian mereka pun marah. Karena ini adalah bentuk ketidaksetaraan bagi para feminis. Hukum ketaatan adalah hukum yang ditentang. Kaum feminis tidak menerima ketaatan ini. Namun sebaiknya, bila suami takut istri, maka ini akan membuat wanita superior, maka tidak masalah. Demikian juga dengan klub-klub yang lain. Husein Muhammad, Komisioner Komnas Perempuan 2007-2010 dan 2010-2014 yang juga penulis buku <em>Islam Agama Ramah Perempuan</em> mengatakan, gagasan Dr. Gina semakin mengokohkan stereotip perempuan sebagai “pelayan”. Perempuan difungsikan sebagai makhluk domestik. Gagasan tersebut meneguhkan kembali konsep domestikasi perempuan. Konsep ini berakar pada anggapan bahwa perempuan adalah makhluk Tuhan yang lemah dan rendah secara intelektual. Sementara laki-laki diposisikan sebagai makhluk publik, karena anggapan akal mereka lebih unggul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana seharusnya upaya menyelesaikan penyakit social secara tuntas?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang dilakukan oleh kaum feminis tidak pernah menyelesaikan masalah. Karena bagi mereka walaupun pelacuran bersifat mendiskreditkan perempuan, tetapi seks bebas adalah hak. Ini tidak akan menyelesaikan persoalan penyakit sosial. Islam memberikan jalan keluar. Yakni kesadaran, sebagai hamba Allah yang mulia, kemudian perlindungan negara atau sistem agar aturan berjalan baik. Selanjutnya masyarakat mengawal dalam fungsinya sebagai amar ma’ruf nahi munkar. Tetapi semua ini memang berawal dari aturan yang baik. Aturan yang mampu menyelesaikan masalah. Dan syariat Islam sebenarnya sudah memberikan jalan keluarnya. <em>[Bunga Salsabila]</em></p>
</div>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/menjadi-istri-taat-suami&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/menjadi-istri-taat-suami/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Ibadah Bersama</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/indahnya-ibadah-bersama</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/indahnya-ibadah-bersama#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 00:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[penikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Pastinya beribadah ditujukan untuk Allah, bukan yang lain. Akan tetapi dengan menjalankannya bersama pasangan bisa menggugah lagi keharmonisan hubungan dengannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/mengaji-bersama_1514_s-resize.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-280" title="mengaji-bersama_1514_s-resize" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/mengaji-bersama_1514_s-resize.jpg" alt="" width="300" height="261" /></a>Menikah berarti membangun kebersamaan. Kadangkala kita lupa bahwa kebersamaan adalah hal yang menjadikan pernikahan senantiasa menyenangkan. Tanpa kebersamaan, hidup akan terasa sendiri meski hidup bersama dalam satu atap.</p>
<p>Memang, kebersamaan lebih besar artinya karena ada kesepahaman dan kesatuan pemikiran. Misalnya, sama-sama paham Allah yang mengatur rizki. Sehingga muncul kebersamaan dan saling dukung ketika terjadi kesulitan finansial. Atau bersepakat mengatur kelahiran dan pendidikan anak.</p>
<p>Meski demikian, adanya kebersamaan secara fisik tetap penting. Sering dikatakan bahwa kalau sering bertemu justru akan cepat bosan, sebaliknya jarang bertemu akan menambah kerinduan. Tapi bagaimana kebersamaan dan kesepahaman akan terbangun seandainya kita dan pasangan jarang bersua?</p>
<p>Kadangkala kita juga lupa menciptakan suasana yang dapat membangun kebersamaan. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan bersama pasangan. Salah satunya adalah menjalankan ibadah bersama.</p>
<p>Pastinya beribadah ditujukan untuk Allah, bukan yang lain. Akan tetapi dengan menjalankannya bersama pasangan bisa menggugah lagi keharmonisan hubungan dengannya. Ada beberapa tips dan kegiatan ibadah yang insya Allah bisa menghangatkan lagi hubungan kita dengan si dia;</p>
<ol>
<li>Membuat kegiatan ibadah rutin. Salah satunya adalah shalat Jumat. Bagi para suami, sempatkan sesekali pulang ke rumah sebelum melaksanakan shalat Jumat. Bagi istri, siapkan perlengkapan shalat Jumat bagi si dia; sarung, baju koko dan peci. Pulang shalat Jumat Anda bersama pasangan bisa melanjutkan dengan kegiatan makan siang bersama.</li>
<li>Mengerjakan shalat berjamaah di mesjid. Kaum wanita tidak dilarang mengerjakan shalat berjamaah di mesjid, meski lebih utama di rumah mereka. Sesekali ikut shalat berjamaah di mesjid bersama pasangan – apalagi di mesjid jami’ yang berada di pusat kota – sungguh merupakan perjalanan yang menyenangkan sekaligus berpahala.</li>
<li>Menghadiri pengajian umum, seminar, training keislaman. Jika memang memungkinkan berangkat bersama pasangan, mengapa tidak dilakukan? Mengikuti kajian akan semakin seru karena Anda bisa berjalan bersama dan mendiskusikan materi kajian seusai acara.</li>
<li>Tilawah bersama. Anda dan pasangan bisa saling mengingatkan tentang makhroj dan tajwid ketika tilawah. Termasuk Anda berdua bisa saling memotivasi untuk meningkatkan hafalan al-Quran.</li>
</ol>
<p>Seringkali kegiatan ibadah bersama terjadi secara spontan. Ada baiknya jika Anda berdua merencanakan sejumlah kegiatan ibadah bersama. Seperti puasa sunnah yang bisa dilanjutkan dengan ifthar bersama; menu apa yang akan disiapkan untuk berbuka, atau mungkin ada tempat makan yang ingin dicoba. Sehingga beribadah selain berpahala juga merekatkan hubungan Anda dengan si dia. <strong>[januar]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/indahnya-ibadah-bersama&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/indahnya-ibadah-bersama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah Mendidik Anak Kreatif?</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/perlukah-mendidik-anak-kreatif</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/perlukah-mendidik-anak-kreatif#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 01:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[didik]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini bisa dikatakan kita belum menjadi bangsa yang kreatif. Kalau kita kreatif maka kita tidak perlu impor. Kita tidak perlu tergantung kepada negara lain dalam hal industri ataupun barang-barang konsumsi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/kreatif-anak-300x158.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-277" title="kreatif-anak-300x158" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/kreatif-anak-300x158.jpg" alt="" width="300" height="158" /></a>Program: Voice of Islam | Rubrik: HOMESCHOOLING | Narasumber: Ir. Lathifah Musa | Topik: PERLUKAH MENDIDIK ANAK KREATIF</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Pergi ke pertokoan mencari kacamata</em></p>
<p><em>Agar bisa dipakai untuk melihat dengan baik</em></p>
<p><em>Kreatif itu bukan berasal dari kecerdasan semata</em></p>
<p><em>Tapi  ia lahir dari motivasi untuk beramal yang terbaik</em></p>
<p>Home schooling kami hadirkan sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.</p>
<p>Dalam rubric ini kita akan masih akan berbincang-bincang dengan Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga. Tema kita berjudul</p>
<p>PERLUKAH MENDIDIK ANAK KREATIF</p>
<p><strong>Ustadzah,  Apa yang dimaksud dengan anak kreatif?</strong></p>
<p>Kalau kita bicara kreatifitas, maka menurut kamus wikipedia, ini adalah proses mental yang melibatkan pemunculan <a title="Gagasan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gagasan">gagasan</a> atau <a title="Konsep" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konsep">konsep</a> baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Kemudian dari sudut pandang <a title="Ilmu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu">keilmuan</a>, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran <a title="Divergen (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Divergen&amp;action=edit&amp;redlink=1">divergen</a>) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru. Kalau dalam pandangan Islam, kita berbicara berdasarkan konsep at Tafkir (proses berpikir Islam), ada sebuah buku karya syaikh Taqiyuddin an Nabhany, kreativitas ini adalah penemuan cara –cara baru dalam rangka mengimplementasikan pemikiran dan metode yang dimilikinya. Tetapi sederhananya bagi saya, kreativitas adalah upaya untuk memecahkan masalah yang dilakukan dalam rangka mewujudkan yang terbaik</p>
<p><strong>Apa pentingnya kreativitas pada generasi muslim?</strong></p>
<p>Tentu sangat penting. Karena kehidupan kita memerlukan solusi. Solusi ini memang harus berpijak pada pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam. Ini yang disebut mualajah musykilah. Implementasi Islam bisa dalam dua ranah. Yang pertama menyelesaikan masalah baru. Ini memerlukan hukum-hukum yang sebelumnya belum dijelaskan. Di sinilah peran ulama/mujtahid. Tapi dalam perumusan hukum, ada kaidah-kaidah ushul dan standar tersendiri. Yang bisa melakukan hal ini adalah seorang dengan kemampuan tertentu, baik dalam tsaqofah ataupun keikhlasan. Tetapi proses kreatif merupakan praktis dari tahap sesudah pendalaman hukum. Proses kreatif adalah pelaksanaan secara praktis dengan tetap berpijak pada hukum syara yang telah ditetapokan. Sebagai contoh. Islam menetapkan bagi sebuah negara yang tegak di atas aqidah islam, dia harus mengerahkan kekuatan untuk meniadakan penghalang-penghalang fisik yang menghalangi dakwah Islam. Ini menjadi arah pembangunan kekuatan militer sebuah negara. Tetapi seperti apa bentuk kekuatannya? Implementasi praktis industri-industrinya. Penemuan-penemuan senjata dan teknologi untuk mengokohkan kekuatan negara, ini proses kreatif yang lebih lanjut.</p>
<p><strong>Apakah kita sebagai bangsa Indonesia sudah cukup kreatif?</strong></p>
<p>Saat ini bisa dikatakan kita belum menjadi bangsa yang kreatif. Kalau kita kreatif maka kita tidak perlu impor. Kita tidak perlu tergantung kepada negara lain dalam hal industri ataupun barang-barang konsumsi. Kalau kita kreatif, maka kita akan punya  pabrik minyak goreng sendiri, mulai dari perkebunan sampai terdistribusi ke rakyat Tetapi kenyataannya kita ekspor CPO. Kita kekuarangan energi, padahal kita tinggal di negeri yang kaya sumber energi. Bukan sekedar sumber energi minya dan gas, tetapi sumber energi kelautan (air), sungai dan bahkan angin. Di Denmark, sebuah negeri kecil di Eropa, mereka sudah tidak menggunakan minyak bumi lagi (sudah sangat berkurang hingga sekian banyak prosen dibanding sebelumnya) mereka menggunakan energi angin dan air untuk menghasilkan energi listrik. Ini proses kreatif yang sebenarnya tidak berangkat dari hukum Islam, tetapi menjadi upaya untuk mengurangi pemanasan global.<strong> </strong></p>
<p><strong>Bagaimana caranya membangun kreativitas?</strong><strong></strong></p>
<p>Sebagai seorang muslim, dorongannya haruslah lillaahi ta’ala. Kekuatan yang terbesar adalah kekuatan ruhiyah. Idroksilabillah. Keterikatan kepada Allah SWT yang menjadi tempat bergantung dan berharap satu-satunya. Allah yang menjadi tempat sekalian makhluk kembali. Maka dorongan dan motivasi ini bisa membuat kita berusaha untuk sejalan dengan hukum syara. Belajar dan mehamaminya. Kemudian setelah memahaminya maka kita berusaha mewujudkan dan meraih nilai amal tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebagai contoh: Misalnya kita menginginkan anak-anak kita menyanyikan lagu yang baik. Lagu yang merepresentasikan aqidah mereka, keyakinan Islam yang kuat, arah kehidupan mereka, sementara saat ini anak anak dicekoki dengan lagu-lagu yang tidak jelas, bahkan cenderung merusak anak. Maka proses kreatif seorang pencipta lagu adalah dia berusaha menciptakan lagu yang ideologis. Yang disukai oleh anak-anak.  Kemudian juga tayangan-tayangan. Inilah sebabnya mengapa ketika kejayaan Islam, tidak ada pembatas seorang itu ahli dalam bidang apa: Contoh Negarawan, Teknokrat, Ahli Fiqh, Ahli bahasa, Ahli Sejarah, itu bisa terkumpul pada seorang Salman al Farisi</p>
<p><strong>Bagaimana kiat membuat anak kreatif?</strong> Pertama kita juga perlu mengenal anak-anak berpotensi kreatif tinggi. Mereka seringkali dipandang bandel. Mereka biasanya -Berwajah Cerah dan Berfisik Dinamis,-Memiliki minat luas mulai tentang musik sampai dunia politik-Memiliki pertanyan yang berbobot tiap kali bertanya-Punya keingintahuan yang tinggi dan mendapatkan penjelasan secara ilmiah-Tidak pernah merasa dibatasi oleh status-Suka dan berani mengambil risiko. Saya mengenal anak-anak ini memiliki tipe. Orang tua harus faham dan memfasilitasi serta mengarahkan mereka[]</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/perlukah-mendidik-anak-kreatif&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/perlukah-mendidik-anak-kreatif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Surga dan Neraka</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/mengenalkan-surga-dan-neraka</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/mengenalkan-surga-dan-neraka#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 00:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Surga dan neraka memang harus mulai dikenalkan pada anak pada usia dini. Agar anak-anak bisa memiliki motivasi dan harapan tentang perbuatan-perbuatan baik. Pengenalan surga dan neraka juga akan membuat anak semakin mengenal Rabbnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/little-boy-reads-quran2-300x220.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-274" title="little-boy-reads-quran2-300x220" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/little-boy-reads-quran2-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a>Program: Voice of Islam | Rubrik: HOMESCHOOLING | Narasumber: Ir. Lathifah Musa | Topik: MENGENALKAN SURGA DAN NERAKA</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Jalan-jalan ke pasar mencari makanan enak</em></p>
<p><em>Jangan lupa cari yang baik dan jelas halalNya</em></p>
<p><em>Kenalkan surga pada anak-anak</em></p>
<p><em>Agar mereka menyukai kebaikan dan mencintai Rabbnya</em></p>
<p>Home schooling kami hadirkan sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.</p>
<p>Dalam rubric ini kita akan masih akan berbincang-bincang dengan Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga. Tema kita berjudul</p>
<p>MENGENALKAN SURGA DAN NERAKA</p>
<p><strong>Ustadzah,  sejak kapan kita mengenalkan surga dan neraka?</strong></p>
<p>Surga dan neraka memang harus mulai dikenalkan pada anak pada usia dini. Agar anak-anak bisa memiliki motivasi dan harapan tentang perbuatan-perbuatan baik. Pengenalan surga dan neraka juga akan membuat anak semakin mengenal Rabbnya.</p>
<p><strong>Bagaimana cara kita mengenalkan surga dan neraka. Mana yang lebih dahulu?</strong> Pengenalan tentang surga dan neraka, adalah pengenalan tentang konsep pahala dan siksa pada anak. Dalam hal ini memang kita harus memahami tahapan-tahapan dan caranya. Karena pada anak usia dini, mereka baru mengenal cinta, kasih sayang dan pelayanan dari orang tuanya, khususnya ibunya. Pendidikan anak usia dini tidak mengedepankan sanksi. Sehingga tahapan pengenalan surga adalah tahap yang paling awal sebelum mengenalkan neraka. Anak-anak menyukai gambaran yang indah, yang menyenangkan. Pengenalan surga sangat mudah dengan pendekatan cinta dan kasih sayang pada anak usia dini. Untuk anak usia dini, mereka harus ditanamkan kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Rasulullah Saw, kecintaan kepada kedua orang tuanya, kecintaan kepada surga sebagai satu bentuk kearunia Allah SWT dan kecintaan kepada Islam dan umat Islam.</p>
<p><strong>Bagaimana cara kita mengenalkan surga?</strong></p>
<p>Untuk anak-anak, lebih mudah bercerita. Dan kita mengenal surga dalam al Qur’anul karim yang datang kepada kita secara pasti bahwa itu dari Allah SWT. Di dalam al Qur’an banyak sekali ayat-ayat tentang surga yang kita jumpai. Misalnya dalam surat ar Rahman. Yang dalam surat itu selain menanamkan kecintaan kepada Allah Yang Maha Penyayang, juga mengenalkan tentang keindahan surga. Selain itu juga ada surat-surat lain dalam al Qur’an. Disampaikan juga kepada siapa surga diberikan. Yaitu kepada orang-orang yang shaleh. Biasanya anak-anak akan memiliki gambaran yang menyenangkan tentang surga. Mereka bertanya apakah ada makanan yang enak-enak, ada mainan-mainan, ada ayunan, ada es krim dll yang mereka sukai. Maka kita biarkan saja imajinasi mereka berkembang tentang surga. Yang jelas, ketika seorang yang shalih masuk surga, maka ia bisa meminta apapun yang indah dan baik kepada Allah SWT. Tentu akan sangat berbeda gambaran surga pada seorang anak, seorang ibu bahkan seorang bapak. Sebagai contoh, bagi seorang ibu, mungkin yang diinginkannya adalah tidur yang nyaman, sehingga gambaran tentang bantal-bantal yang bersusun dan permadani-permadani membuat para ibu yang seringkali kepayahan mengurus rumah tangga dan anak  yang masih kecil memikirkan tentang surga. Untuk para bapak atau para bujang mungkin yang terindah adalah bidadari. Apapun, surga itu menyenangkan dan membuat setiap manusia yang shalih dan shalihah sangat berharap memasukinya.</p>
<p><strong>Kapan kita mengenalkan  neraka?</strong> Kita mengenalkan neraka setelah mengenalkan surga. Tetapi pada anak usia dini hanyalah gambaran yang bersifat umum saja. Bahwa di neraka kita tidak akan menemui sesuatu yang indah dan menyenangkan, jauh berbeda dengan gambaran surga. Maka sebenarnya rata-rata cukup bagi seorang anak untuk tidak suka neraka. Apalagi ketika sang ibu mengatakan, bahwa ibu sendiri tidak mau masuk masuk neraka, maka anak kecil biasanya mengatakan aku maunya sama ibu. Kalau ibu tidak mau masuk neraka, maka aku juga tidak mau. Bagi anak kecil, ibunya adalah segalanya.  Di neraka kita tidak akan menemui Allah dan rasulNya, di neraka kita juga mungkin tidak akan bertemu dengan ibu kita yang baik dan shalihah. Ketika tahap pertama anak sudah berhasil dikenalkan kecintaan kepada Allah, RasulNya, insya Allah ia akan mengenal bahwa neraka adalah tempat yang harus dihindari dan dijauhi.</p>
<p><strong>Apakah perlu gambaran deskriptif tentang neraka? Lengkap dengan segala bentuk siksanya misalnya?</strong></p>
<p>Pada tahap awal, misalnya usia TK memang tidak perlu deskriptif. Karena khawatir terbawa mimpi dan mereka sangat takut. Untuk usia SD bisa lebih deskriptif dan akan membuat mereka semakin tidak suka dengan neraka, dan memfokuskan hidup untuk selalu mencari jalan ke surga. Ada satu permainan anak-anak yang namanya ular tangga anak muslim. Permainan ini sangat baik untuk mengenalkan macam-macam amal shaleh yang harus diikuti dan amal buruk yang harus dijauhi. Anak-anak sangat senang ketika mereka bisa berhasil naik tangga menuju ke surga. Apalagi kalau tanpa hisab. Mereka sangat sedih ketika dalam langkahnya tergelincir mundur atau turun, sehingga jauh dari surga. Di sanalah kita akan menanamkan kecenderungan anak untuk  selalu beramal shaleh. Pengenalan tentang neraka bisa menyertai pengenalan tentang hari Kiamat. Karena Hari Kiamat adalah salah satu rukun iman yang juga harus dikenalkan sejak usia dini. Karena anak juga diajari tahfizh al Qur’an dan juz amma’ banyak membahas tentang hari Kiamat juga, maka penjelasan surat-surat dalam juz amma’ sangat perlu disampaikan kepada anak ketika mereka menghafalkan.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan anak yang saking bandelnya jadi tidak mempan ketika kita hanya memberi gambaran umum tentang neraka. Mereka cenderung menyepelekan?</strong></p>
<p>Pada anak-anak tertentu memang ada yang kategori bandel sehingga menyepelekan penggambaran tadi. Penggambaran deskriptif tentang neraka sangat perlu, agar mereka paham. Salah seorang kawan saya pernah ditantang seorang anak kecil bahwa dia tidak takut neraka. Dia menjelaskan tentang adanya neraka itu dipenuhi api. Kebetulan ia membawa korek api. Dia menyalakan untuk menjelaskan api, kemudian meniupnya. Tiba-tiba ujung baranya ditempel ke tangan anak. Si anak terkejut. Panas, katanya. Baru teman saya ini menjelaskan bahwa itu baru baranya. Belum apinya. Kemudian dijelaskan lagi tentang api dunia itu hanyalah percikan yang sangat kecil dari api neraka. Baru anak ini takut dengan neraka. Ada satu contoh lain dalam sinetron Dedy Mizwar: PPT kira-kira setahun yang lalu. Ketika tiga sahabat yang tinggal di mushola mendebat tentang, bahwa setan jin itu dari api, kalau masuk neraka berarti tidak terasa dong. Kan api ketemu api. Kemudian Bang Jack menjelaskan, tapi ketiganya ditampar dulu satu persatu. Ditanya apakah sakit: mereka jawabab pasti sakit, namanya juga ditampar. Baru kemudian menjelaskan, bahwa asal manusia dari tanah, pipi itu tanah dan tangan itu tanah. Tanah ketemu tanah apa bisa sakit. Demikian juga api neraka itu sangat keras dan dahsyat yang juga bisa membuat makhluk yang berasal dari api pun sangat sengsara. Bagi saya itu bagian skenarionya Wahyu HS yang sangat jelas dan cerdas menjelaskan tentang siksa neraka kepada mereka-mereka yang bandel. Tapi ini penjelasan kepada preman ya. Kalau anak kecil tentu tidak boleh seperti itu. []</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/mengenalkan-surga-dan-neraka&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/mengenalkan-surga-dan-neraka/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejujuran adalah Karakter</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/kejujuran-adalah-karakter</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/kejujuran-adalah-karakter#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 04:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[karakter. akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[Kejujuran bukan sekedar hiasan kepribadian. Tetapi kejujuran adalah karakter yang melekat pada kepribadian. Kejujuran adalah bagian dari akhlak Islami.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_270" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/siswa-sdn-gadel-ii-577-surabaya-alif-beserta-ibu-nya-_110617125619-886.jpg"><img class="size-medium wp-image-270" title="siswa-sdn-gadel-ii-577-surabaya-alif-beserta-ibu-nya-_110617125619-886" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/siswa-sdn-gadel-ii-577-surabaya-alif-beserta-ibu-nya-_110617125619-886-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">Ibu Siami dan Alif, anaknya | Foto: www.republika.co.id</p></div>
<p style="text-align: center;"><em>Masih ingat dengan fenomena Bu Siami dan Alif? Alif adalah pelajar SD di Surabaya  yang mengungkapkan kasus contek massal di sekolahnya. Bu Siami kemudian melaporkan keluhan anaknya kepada yang berwenang. Namun yang kemudian dialami oleh bu Siami dalam mengungkapkan contek massal ini ternyata tidak mudah. Sempat terjadi pengusiran warga yang tidak setuju dengan terbongkarnya borok contek massal. Ada apa sebenarnya dengan bangsa ini. Mengapa kejujuran menjadi hal yang sulit ditegakkan?</em><em> Kita akan berbincang-bincang tentang KEJUJURAN ADALAH KARAKTER  Bersama Ustzh. Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ustadzah, tentang kasus Alif dan Bu Siami, apa sebenarnya yang terjadi? </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bu Siami adalah sedikit orang yang sangat tidak bisa menerima kecurangan. Barangkali ini menjadi ingatan bangsa ini. Bahwa ada berita, seorang murid yang diminta untuk memberi contekan kepada teman-temannya ketika ujian nasional. Bu Siami sendiri baru tahu kalau ada peristiwa contek massal, kira-kira 4 hari setelah UN. Ia diberitahu oleh salah seorang wali murid yang lain. Awalnya Alif tidak menceritakan kepada ibunya, tetapi akhirnya menceritakan tentang perintah guru agar ia memberitahu teman-temannya dalam UN. Bahkan bagaimana cara contek massal pun dipraktekkan. Inilah yang tidak bisa diterima Bu Siami yang akhirnya melaporkan kasus ini kepada kepala sekolah, namun tidak ada tanggapan. Ia pun melaporkan kepada Diknas yang kemudian ditindaklanjuti dengan menyelidiki kebenaran kasus tersebut yang akhirnya terbukti. Kasus ini berujung pada sanksi kepada kepala sekolah dan dua guru.  Namun ternyata selanjutnya warga mendemo Bu Siami sekeluarga, karena menganggap apa yang dilakukannya berlebihan dan tidak memiliki nurani. Bu Siami diminta untuk menyampaikan permintaan maaf. Tidak cukup dengan itu, mereka pun meminta Bu Siami sekeluarga untuk pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengapa bisa terjadi kondisi seperti ini</strong><strong>? Mau jujur malah terusir? </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian yang terjadi. Sebuah media mengangkat judul, mau jujur malah ajur. Kejujuran malah dihancurkan. Warga menganggap hal tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Kenyataannya contek massal juga tidak terjadi, karena anak-anak juga tidak semuanya mengikuti arahan gurunya. Walaupun pengakuan wali murid yang lain contek-mencontek itu terjadi juga. Warga dan juga guru-guru secara umum menganggap contek mencontek adalah hal yang biasa. Di sekolah lain pun barangkali juga terjadi. Untuk itu tidak perlu dibesar-besarkan. Apalagi sampai membuat  kepala sekolah dan wali kelas jadi diturunkan jabatan. Bisa jadi mereka hanya lagi sial saja. Karena contek-mencontek dalam UN biasa terjadi sebelumnya. Inilah yang membuat seorang yang jujur menjadi melawan arus. Ada dua hal yang terlihat dari kondisi bangsa seperti ini: (1) Ketidakjujuran itu hal biasa. Jangankan warga, untuk para elit saja sudah terbiasa berbohong. Berbohong seperti sudah menjadi karakter bangsa ini. Sangat mudah kita menyaksikan kebohongan-kebohongan dipertontonkan. Itu yang akhirnya membangun karakter bohong dan membunuh karakter jujur. Bahkan dalam kasus para pejabat atau elit politik pun, yang sudah terang-benderang salah pun masih dengan gampangnya berkelit. Rakyat melarat dikatakan makmur; gagal dibilang sukses; hutang dibilang bantuan; banyak sekali ketidakjujuran yang ditebarkan oleh para pemimpin (2) Masa bodoh terhadap persoalan bangsa. Lihat saja, ketika para orang tua murid membiarkan guru-guru berbuat salah. Maksudnya agar mereka tidak terkena getah ruginya. Ini menunjukkan ketidakpedulian pada pengeroposan karakter bangsa. (3) Sekolah mengejar nilai, bukan mengejar kebaikan. Padahal seharusnya sekolah itu memperbaiki karakter agar menjadi baik dan mulia. Bukannya malah membuat anak didik menjadi rusak karakternya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apakah yang dilakukan oleh Bu Siami ini bagaikan menyiram air di pasir kering? Tidak ada pengaruhnya bagi sifat kejujuran bangsa ini?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Insya Allah apa yang dilakukan oleh orang-orang seperti Bu Siami tidak akan sia-sia. Bisa jadi selama ini banyak orang tua sudah muak dengan apa yang terjadi di sekolah. Ini membuka kebobrokan sistem pendidikan. Dengan sistem pendidikan yang ada, guru jadi hanya mengejar target kelulusan, mengejar pangkat dan gaji sehingga mengabaikan profesionalitasnya sebagai pendidik. Guru bukan lagi orang yang layak diteladani dalam karakter kejujuran dan lain-lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana seharusnya pendidikan kejujuran bagi generasi?</strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kejujuran bukan sekedar hiasan kepribadian. Tetapi kejujuran adalah karakter yang melekat pada kepribadian. Kejujuran adalah bagian dari akhlak Islami. Rasulullah Saw bersabda: <em>“Kalian harus berbuat jujur, karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Jika manusia senantiasa berbuat jujur dan memperhatikan kejujuran, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur.”</em> (<strong>Muttafaq ’alaih</strong>). Pada hadits <strong>Muttafaq ’alaih</strong> yang lain, Rasulullah Saw bersabda: <em>“Ada empat perkara, siapa saja yang memilikinya, maka ia menjadi munafik dengan sempurna. Barangsiapa yang memiliki salah satunya, maka ia memiliki salah satu sifat kemunafikan, hingga meninggalkannya. Yaitu apabila seseorang diberi amanat, ia khianat; apabila berbicara ia berdusta; apabila berjanji ia tidak menepatinya; dan apabila ia berdebat ia akan berbuat curang.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi melemahnya karakter kejujuran bangsa ini?</strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memperbaiki dari asasnya. Mengapa kejujuran hilang? Karena asasnya juga tidak mengokohkan kejujuran. Sekarang ini manusia sudah kapitalistik-sekularistik. Dasar berpikir kebanyakan orang adalah keuntungan dan materi. Bukan lagi sebagaimana seorang muslim yang dasar berpikirnya adalah sebagai hamba Allah SWT yang meyakini PenciptaNya dan meyakini bahwa hidup ini harus diatur oleh PenciptaNya. Guru yang materilistik-kapitalistik-sekularistik hanya akan mengejar materi. Mengejar pangkat dan jabatan karena dengan demikian akan naik gaji. Guru pun mengejar kelulusan, karena kelulusan yang tertinggi akan menaikkan ranking sekolah. Sekolah untuk mencari ilmu kini sudah hilang. Sekolah hanya untuk meraih ijazah dan gelar. Ketika asas Islam sudah hilang, maka target-target tadi dikejar dengan segala cara. Mau halal atau haram, tidak dilihat lagi. Yang penting menguntungkan secara materi. Ketika asasnya salah, maka perbaikannya juga harus dimulai dari asasnya. Pendidikan Islam berasaskan kalimat tauhid Laa ilaaha illaallaah. Berpegang teguh pada hukum Syara’. Inilah fungsi pendidikan. Bila ada perubahan secara menyeluruh dari asasnya, insya Allah akan ada perbaikan. [<em>Bunga Salsabila</em>]</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/kejujuran-adalah-karakter&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/kejujuran-adalah-karakter/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati Yang Terbelah</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/hati-yang-terbelah</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/hati-yang-terbelah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 23:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Orang enggan beribadah karena merasa dirinya berlumur dosa. Mereka sudah memvonis diri mereka sendiri bahwa Allah membenci mereka dan akan menolak semua ibadah yang mereka kerjakan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/deni-triwardana-hati.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-267" title="deni-triwardana-hati" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/deni-triwardana-hati-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a>Suatu hari seorang ibu bercerita bahwa suaminya enggan melaksanakan sholat dan berdoa kepada Allah. Sang suami beralasan bahwa dia banyak melakukan dosa; suka menerima suap dan melakukan pemerasan kecil-kecilan pada orang lain. Karena diselubungi dosa, maka ia malu dan ujungnya enggan beribadah karena takut ibadahnya ditolak oleh Allah Swt. Meski demikian ia menyuruh agar istrinya saja yang banyak beribadah dan berdoa.</p>
<p>Pembaca budiman, suasana hati yang dialami oleh bapak tadi cukup banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Orang enggan beribadah karena merasa dirinya berlumur dosa. Mereka sudah memvonis diri mereka sendiri bahwa Allah membenci mereka dan akan menolak semua ibadah yang mereka kerjakan.</p>
<p>Sebenarnya, adanya kesadaran akan perbuatan dosa sudah merupakan hal yang terpuji. Berarti ia tidak mabuk dengan dosa sampai-sampai tidak tahu lagi mana yang dosa dan mana yang bukan. Tidak jarang orang sudah tenggelam dalam dosa dan akhirnya lupa dengan dosa itu sendiri.<span id="more-266"></span></p>
<p>Akan tetapi, jika kesadaran itu berujung pada keengganan beribadah, apalagi memvonis diri bahwa Allah menutup pintu rahmatNya, itu adalah sebuah kesalahan. Karena itu adalah tipu daya syetan yang membuat orang berputus asa dari rahmat Allah. Sehingga terputuslah jembatan yang menghubungkan diri seorang hamba dengan rahmat Allah Swt.</p>
<p>Semestinya manakala seorang hamba menyadari kekeliruannya, yang harus ia lakukan adalah bersegera kembali ke jalan Islam. Lepaskan semua perbuatan kejinya dan segera mengingat Allah dan memohon ampunan dariNya. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” </em><strong>(QS Ali Imran [3]: 135)</strong></p>
<p>Betapapun berat risiko yang harus dipikul karena meninggalkan kemaksiatan, tapi itulah satu-satunya jalan untuk selamat. Ketimbang hati terbelah dua antara kemaksiatan dan kerinduan berpulang kepada Allah, maka lebih baik melepaskan kemaksiatan. Karena tidak mungkin melepaskan ketaatan pada Allah. Mengapa? Karena bagaimanapun juga kita akan berpulang, kembali kepadaNya, yakni tatkala meninggal dunia.</p>
<p>Pada saat berpulang, tak ada yang lepas dari pengamatan Allah Swt., dan pada hari itu tak ada yang bisa menolong dan bermanfaat bagi seorang hamba. Termasuk pangkat, harta dan anak-anak. Hanya ketenangan hati yang dipenuhi dengan takwa yang akan selamat. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa,” </em><strong>(QS Asy Syu’ara: 87-90)</strong></p>
<p>Allah Swt. Maha Pengampun, bertobatlah selama kita masih diberi kehidupan olehNya <strong>[januar]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/hati-yang-terbelah&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/hati-yang-terbelah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah motivasi dari orang lain?</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/perlukah-motivasi-dari-orang-lain</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/perlukah-motivasi-dari-orang-lain#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 14:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa orang dengan keyakinan diri yang penuh, biasanya lebih suka dengan inspirasi. Ia bahkan mencari inspirasi sampai jauh. Aktif bergerak. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu’alaikum wr wb</em></p>
<p><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/belajar-dari-ayah_1627_l.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-263" title="belajar-dari-ayah_1627_l" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/08/belajar-dari-ayah_1627_l-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Sampai sekarang saya masih percaya, bahwa saya hanya butuh inspirasi. Bukan motivasi. Tetapi saya tidak pernah melarang siapapun untuk memotivasi. Bahkan saya sendiri sering memotivasi. Lah, lalu apa esensinya menulis catatan ini? Ada. Justru karena ada esensinya saya menuliskannya. Dalam beberapa kondisi kita memang butuh motivasi orang lain. Mungkin sekadar untuk membangkitkan potensi yang sebenarnya sudah kita miliki, hanya saja kita belum merasakannya bahwa itu adalah potensi kita. Kadangkala kita baru sadar ketika diberikan motivasi agar mau bergerak, mau melakukan sesuatu, mau bertindak. Pada kondisi ini, motivasi memang diperlukan.</p>
<p>Namun, kenyataannya motivasi tak selalu menjadi ‘vitamin’ bagi orang yang menerimanya, bahkan ironinya adakalanya sang motivator justru malah yang harus dimotivasi. Salahkah? Tidak juga. Ini sisi manusiawi setiap orang. Sebagaimana khatib jumat yang selalu mewasiatkan pesan takwa kepada jamaah, dan juga dirinya: Usiikum wa nafsi bitaqwallah (aku menasihati kalian dan aku sendiri dalam bertakwa kepada Allah). Nasihat memang untuk diri kita dan juga orang yang kita beri nasihat.</p>
<p>Sama seperti saya ketika menulis. Sejatinya adalah pesan bagi saya sendiri dan juga siapapun yang membaca pesan yang saya tulis. Sebab, saya—dan juga siapapun yang menyampaikan pesan nasihat—wajib bertanggungjawab dengan apa yang disampaikannya. Secara sederhana bisa dirumuskan: tuliskan apa yang Anda kerjakan dan kerjakan apa yang Anda tulis. Ini agar apa yang kita tulis bukan semata ‘nyuruh-nyuruh’ saja. Tetapi kita juga aktif melaksanakannya. Termasuk apa yang dikerjakan perlu ditulis dan dicatat agar bisa mengevaluasi di lain waktu. Sehingga apa yang kita kerjakan senantiasa menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.</p>
<p><strong>Beda motivasi dan inspirasi</strong></p>
<p>Secara bahasa, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), motivasi adalah: dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Penjelasan tambahannya (dalam bidang psikologi), motivasi adalah usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.</p>
<p>Bagaimana dengan inspirasi? Masih menurut KBBI, inspirasi sama maknanya dengan ilham, yakni pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati; bisikan hati. Bisa juga sesuatu yang menggerakkan hati untuk menciptakan (mengarang syair, lagu,menulis, membuat kendaraan tertentu dsb).</p>
<p>Dari kedua definisi ini, menurut saya, tampak sedikit perbedaan meski agak mirip dalam aksinya. Namun, saya lebih suka menggunakan istilah inspirasi. Terasa lebih kuat karena pelakunya seolah-olah berusaha secara keras untuk melakukannya. Berbeda dengan motivasi (yang dipahami banyak orang saat ini sebagai sebuah jenis pelatihan atau training untuk membangkitkan motivasi seseorang atau khalayak ramai), karena sifatnya yang seolah-olah seseorang itu “menunggu” untuk mendapatkan sesuatu dan kemudian bergerak. Inspirasi lebih aktif, sementara motivasi cenderung pasif. Saya tidak berkesimpulan pasif, tetapi memilih diksi “cenderung pasif”. Sebab, berdasarkan kenyataan memang demikian adanya. Banyak orang meminta untuk dimotivasi, jarang yang meminta untuk diinspirasi.</p>
<p>Apa contohnya? Saya sering mendapatkan permintaan dari beberapa orang agar saya memotivasi diri mereka dalam segala hal, terutama yang paling sering adalah dalam menulis. Saya diminta memberikan motivasi-motivasi seputar menulis. Tugasnya memang jadi semacam motivator khusus dalam penulisan. Saya bahkan membuat modul pelatihan menulis yang salah satu pembahasannya  mencantumkan materi khusus; motivasi menulis. Sebenarnya, jujur saya masih merasa ragu. Sebab, motivasi itu tak akan ada apa-apanya sama sekali jika orang yang saya motivasi tak melakukannya sesuai petunjuk. Tidak bergerak. Secanggih apapun sang motivator atau guru atau instruktur dalam memotivasi para peserta pelatihan, jika yang diberi motivasi menolak melakukannya atau minimal tidak merasa yakin dengan apa yang disampaikan pemberi motivasi. Sehingga dalam hal ini memang diperlukan kerjasama dua arah. Tidak bisa satu arah.</p>
<p><strong>Lebih sering terinspirasi daripada termotivasi</strong></p>
<p>Beberapa orang dengan keyakinan diri yang penuh, biasanya lebih suka dengan inspirasi. Ia bahkan mencari inspirasi sampai jauh. Aktif bergerak. Ia mungkin saja membutuhkan motivasi. Namun tidak mengandalkan secara penuh kepada motivasi. Apalagi jika harus menunggu motivasi dari orang lain.</p>
<p>Oya, saya juga pernah  memberikan arahan bahwa motivasi menulis adalah untuk beribadah dan berjuang. Pengertian motivasi seperti ini lebih dekat dengan istilah niat dalam khasanah Islam. Tentu agak berbeda dengan istilah motivasi yang dipahami saat ini (termasuk dalam tema tulisan ini), khususnya jika dihubungkan dengan orang yang meminta untuk dimotivasi. Demi mendapatkan motivasi dari orang yang dianggap mampu, sebagian orang bahkan mau membelinya dengan harga tinggi. Misalnya dengan mengikuti pelatihan atau training motivasi. Salahkah mereka? Tidak juga. Itu kan seperti jual beli. Jika mampu membeli untuk mendapatkan motivasi yang diinginkannya, silakan saja. Begitu pun jika ada orang yang berani dan mau menjual pelatihan motivasi, sah-sah saja. Apalagi saat ini memang sedang gandrung. Mereka yang membutuhkan banyak, yang menawarkan juga tak sedikit.</p>
<p>Untuk kondisi tersebut saat ini, kita bisa menyaksikan, beragam motivasi ditawarkan: motivasi usaha/bisnis, motivasi menjalani kehidupan rumah tangga, motivasi persiapan pernikahan, motivasi belajar, motivasi untuk meraih impian menjadi pribadi yang unggul, termasuk motivasi menulis. Ya, konon kabarnya semua orang sebenarnya punya potensi untuk menjalani bisnis, belajar, dan termasuk menulis. Hanya saja mereka perlu kemauan yang kuat untuk memulai dan menjalaninya sehingga kemampuannya akan terasah.  Konon kabarnya, dalam pelatihan atau traning seperti itulah diberikan kunci-kuncinya.</p>
<p>Pentingkah sebuah kemauan? Penting. Saking pentingnya kemauan, seringkali bisa mengalahkan kemampuan.  Buktinya, orang yang kemauannya tinggi untuk menjadi penulis misalnya, maka ia akan terus berusaha dan belajar serta berlatih menulis. Sementara yang sudah memiliki kemampuan menulis—meski belum mahir benar—tetapi jika kemampuannya tidak diasah terus secara konsisten, maka ia akan mudah disalip oleh yang hanya mengandalkan kemauan di tahap awal. Mereka yang kuat kemauannya dan terus berlatih, akan memiliki kemampuan juga pada akhirnya. Cepat atau lambat.</p>
<p>Saya sendiri merasa lebih sering terinspirasi dari bacaan atau perkataan dan perbuatan orang lain. Meskipun ia tidak memberikan motivasi secara langsung kepada saya. Contohnya, ketika saya membaca sebuah <em>quote</em> menarik dari Syaikh Sayyid Quthb dalam sebuah artikel, “Jari telunjuk yang setiap hari memberi kesaksian tauhid kepada Allah saat shalat, menolak menulis satu kata pengakuan untuk penguasa tiran”. Subhanallah. Melalui <em>quote</em> ini, jujur saya terinspirasi untuk menguatkan keyakinan saya bahwa hanya Allah Swt. yang wajib disembah dan ditaati serta diakui sebagai satu-satunya pencipta. Bukan yang lain. Saya pun terinspirasi untuk terus menulis dengan tujuan menyampaikan kebenaran Islam. Dan, berazzam untuk tidak pernah mengakui sesuatu yang bertentangan dengan akidah Islam. Insya Allah.</p>
<p>Begitupun saya merasa terinspirasi ketika saya membaca sebuah tulisan yang memuat pernyataan tokoh pergerakan sekelas KH M Isa Anshary. Beliau menuliskan bahwa, “Revolusi-revolusi besar di dunia selalu didahului oleh jejak pena dari seorang pengarang. Pena pengarang mencetuskan suatu ide dan cita, menjadi bahan pemikiran pedoman berjuang”. Jika beliau saja yang sudah banyak makan asam-garam kehidupan dan perjuangan tetap percaya bahwa revolusi digerakkan dari ide-ide yang ditulis oleh para penulis,maka saya yang sedang merintis dan berada di jalur perjuangan harus semakin percaya diri untuk menempuhnya dan membuktikan bahwa saya bisa menulis untuk menginspirasi dan menggerakkan banyak orang. Insya Allah.</p>
<p>Dalam melatih kemampuan menulis, saya juga tidak anti untuk mendapatkan inspirasi dari penulis lainnya. Michael Crichton salah satunya, ia menuliskan pesan inspiratif, “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.” Karena sebuah karya akan menginspirasi banyak orang, maka saya sering menyiapkan diri untuk ‘menghidangkannya’ kepada pembaca tulisan-tulisan saya. Semaksimal kemampuan saya.</p>
<p>Baiklah, mengakhiri tulisan ini, sesuai dengan judulnya, saya akan menjawab pertanyaan yang saya jadikan sebagai judul tulisan ini: ya, kita butuh motivasi (termasuk menurut saya, inspirasi) dari orang lain. Tetapi, peran kita tetap menentukan langkah kita sendiri. Para inspirator dan motivator, kelas dunia sekalipun, tak akan mampu menolong keterpurukan kita jika kita tak mau berubah. Mereka bisa berhasil karena kita bekerjasama dengan mereka. Kita mengikuti sarannya, dan mengembangkannya lebih hebat.  Semoga kita siap mengubah diri kita, baik awalnya terinspirasi dan termotivasi dari orang lain, ataupun kita sendiri yang merenung dan melakukan usaha maksimal sehingga inspirasi itu muncul dari hasil kreasi kita. Apapun itu, yang penting: tuliskan apa yang Anda kerjakan dan kerjakan apa yang Anda tulis. Sebab, di situlah inspirasi dan motivasi terbesar yang (telah) kita miliki. Setidaknya, menurut saya. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/perlukah-motivasi-dari-orang-lain&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/perlukah-motivasi-dari-orang-lain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang-orang Pilihan</title>
		<link>http://mutiara-ummat.org/orang-orang-pilihan</link>
		<comments>http://mutiara-ummat.org/orang-orang-pilihan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 00:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiaraummat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[istiqomah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiara-ummat.org/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Seorang sahabat mencetuskan kalimat,”Kita sih inginnya mendapatkan yang terbaik, tapi ternyata dapatnya yang sisa-sisa!” Konteks kalimat ini bisa diterjemahkan dalam banyak versi dan fakta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/07/147.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-228" title="147" src="http://mutiara-ummat.org/wp-content/uploads/2011/07/147-300x195.jpg" alt="" width="300" height="195" /></a>Seorang sahabat mencetuskan kalimat,”Kita sih inginnya mendapatkan yang terbaik, tapi ternyata dapatnya yang sisa-sisa!” Konteks kalimat ini bisa diterjemahkan dalam banyak versi dan fakta.</p>
<p>Misalnya dalam komunitas para lajang, akhwat-akhwat yang tercantik biasanya (walaupun tidak selalu), cepat dapat jodoh. Yang antri mengkhitbah pun banyak. Sang akhwat kembang komunitas ini pun lantas bisa memilih. Kalaupun ketaqwaan dianggap standar, bahwa insya Allah Islam-nya para ikhwan ini baik, maka kriteria pun ditambah dengan yang mapan, cakep, keren, aktivis populer de el el. Walhasil seiring waktu para akhwat dan ikhwan populer (pilihan pemirsa) ini pun telah ke pelaminan dan tinggallah yang tersisa. Yang tersisa pun akan mendapatkan yang tersisa. Ini konteks dunia perjodohan.</p>
<p>Contoh lain, seorang guru mengeluh bahwa sekolahnya hanya mendapatkan murid yang sisa-sisa. Maklum saja, sekolah populer pastinya mematok nilai Ujian Akhir Nasional tertinggi (plus orang tua terkaya). Artinya kalau hanya yang nilainya pas-pasan  dengan gaji ortu yang pas-pasan pula, maka silakan masuk ke sekolah yang tersisa. Apalagi kalau nilai minim dengan penghasilan miskin, masuklah kriteria orang-orang terbuang!</p>
<p>Benarkah demikian? Yah, demikianlah kebenaran dalam masyarakat kita saat ini. Kelompok manakah anda? Kelompok pilihan atau kelompok sisa-sisa atau barangkali kelompok terbuang?<span id="more-226"></span></p>
<p>Jangan tertipu dengan opini sesat paragraf di atas. Karena sebenarnya ketika seseorang telah memilih Allah SWT sebagai pilihan satu-satunya Sang Pencipta, tempat menyandarkan ketaqwaan, bagai seorang bayi yang hanya akan bertahan hidup dengan kasih sayang orang tua atau manusia dewasa yang merengkuhnya, maka sesungguhnya anda tak pernah akan menjadi yang tersisa atau mendapatkan yang tersisa. Siapapun anda, dalam taraf kecantikan dan ketampanan, tingkat pendidikan, kekayaan atau jabatan apapun, maka selain taqwa, semua kriteria hanyalah asesoris. Allah SWT berfirman: ” <em>Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum</em>” [Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.]” (QS. al-Hujurat: 13)</p>
<p>Suami anda adalah manusia pilihan. Murid-murid anda adalah orang-orang pilihan. Anda telah berusaha memilih. Namun, bisa jadi hasilnya bukan pilihan terbaik kriteria anda. Atau bahkan jauh lebih baik? Bersyukurlah dan yakinlah bahwa Allah SWT telah memilih yang terbaik.</p>
<p>Untuk itu marilah kita selalu menyandarkan pilihan kepada Allah SWT dalam setiap urusan. Shalat Istikharah dan mohonlah dengan sangat:</p>
<p><em>Allahumma inni astakhiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratika, wa as`aluka min fadhlikal ‘azhiim. Fainnaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta  ‘allaamul ghuyuub. Allahumma inkunta ta’lamu anna hadzal amra khairul lii fii diini wa dunyaayaa wa ma’aasyii wa aaqibati amri aw aajili amri wa aajilihi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarikli fiihi. Wa inkunta ta’lamu anna hadzal amra syarrul lii fii diini wa dunyayaa wa ma’aasyii wa aaqibati amri aw ajili amrii wa aajilihii fashrifhu annii washrif nii ‘anhu waqdurlii khaira haitsu kaana tsumma radhdhiini  bihi. Innaka ‘alaa kulli syai`in qadiir [Ya Allah, aku memohon petunjuk untuk memilih yang baik dalam pengetahuanMu, aku memohon ditaqdirkan yang baik dalam kodratMu, aku mengharapkan karuniaMu yang besar. </em><em>Engkau Maha Kuasa dan aku adalah hambaMu yang dhaif. Engkau </em><em>M</em><em>aha tahu dan aku adalah hambaMu yang jahil. Engkau Maha Mengetahui semua yang ghaib dan yang tersembunyi. Ya Allah, jika hal ini bagi pengetahuanMu adalah baik bagiku dan bagi agamaku, baik bagi kehidupanku sekarang dan masa yang akan datang, taqdirkanlah dan mudahkanlah bagiku kemudian berilah aku berkah daripadanya. Tetapi jika dalam ilmuMu, hal ini akan membawa bencana bagiku dan bagi agamaku, dan membawa akibat dalam kehidupanku, baik sekarang ataupun masa yang akan datang, jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku daripadanya. Semoga Engkau taqdirkan aku pada yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas setiap sesuatu</em><em>.]</em></p>
<p>Dengan demikian syukurilah apapun pilihan Allah SWT, baik anda ada hak untuk memilih (memilih suami, istri, sekolah, rumah dll) ataupun anda tidak bisa memilih (seperti siapa orang tua anda, bagaimana kondisi fisik anda, warna kulit dll).</p>
<p>Cara pandang ini akan mempengaruhi sikap anda terhadap hasil akhir pilihan yang telah ditaqdirkan Allah SWT. Anda menghormati suami pilihan dan menempatkannya dalam posisi terbaik, anda menghargai murid-murid anda dan berusaha memberikan yang terbaik, anda memelihara dengan baik apapun karuniaNya. Inilah makna syukur, dan insya Allah segala sesuatu akan berjalan lebih baik lagi, karena Allah SWT akan menambah nikmatNya.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya <strong>jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu</strong>, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 7</strong>)</p>
<p>Akhirnya, janganlah pernah merasa menjadi yang tersisa apalagi orang-orang terbuang. Terima kasih Pembaca, andalah orang-orang pilihan, yang telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p>(Lathifah Musa, 19 Juli 2011)</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://mutiara-ummat.org/orang-orang-pilihan&amp;layout=button_count&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiara-ummat.org/orang-orang-pilihan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

